Kenapa Haru Aku ???

Aku yang amat bahagia dengan hidupku, ketika aku masih sanggup tertawa bersama dengan keluarga, sahabat dan pacarku. Dihari nan panjang, teman – temanku berinisiatif untuk membuat kebersamaan kita menjadi lebih satu dalam lingkup yang kecil, biasa disebut “genk” . Lalu aku pun sepakat untuk menyatukan janji dengan mereka, untuk selalu bersama. Alangkah indah duniaku, disaat apapun yang terjadi padaku, aku takkan takut karena mereka tak enggan untuk selalu membantuku, begitu pula halnya dengan aku. Disaat mereka mengajakku untuk bermain kerumahnya, Betapa bahagianya aku, apalagi saat mereka mengenalkanku pada keluarganya, aku makin merasakan kehangatan itu, sekarang aku merasa mempunyai banyak keluarga.  Aku bukan orang yang sanggup untuk berdiam diri tanpa mempunyai kesibukan apapun, karna moto hidupku “Aku Bukan Orang Biasa” disela-sela itu aku pun memadati jadwal harian ku dengan mengikuiti kegiatan-kegiatan yang ada, tapi aku selalu membagi waktuku untuk sekolahku, keluargaku, pacarku, dan sahabat-sahabatku. Sampai saat ini aku masih kuat untuk berdiri melawan derasnya arus hidup karena aku percaya ada mereka yang selalu ada dihidupku. Merekalah penyelamat hidupku, i love you.

Suatu ketika kegiatanku benar-benar mengharuskanku untuk selalu ada, sepulang dari sekolah aku segera bergegas kesana, dan kini waktuku semakin berkurang untuk keluarga, pacar, dan sahabatku. Namun keluargaku selalu mendukung apapun yang aku lakukan, jika itu masih dalam ruang lingkup positif, begitu pula dengan pacar dan sahabatku. Suatu ketika, disaat sahabatku sedang berulang tahun dan aku dimintanya untuk hadir bersama sahabat-sahabatku, namun disaat itu aku diharuskan untuk melanjutkan kewajibanku dalam organisasi itu. Aku binggung, Apa yang harus aku lakukan ? mana yang harus aku pilih ?

Setelah aku berfikir dengan masak-masak aku memilih untuk melanjutkan kewajibanku dalam organisasi itu, karena pasti sahabat-sahabatku akan mengertikan aku. Dari semua sahabatku hanya aku yang tak  hadir disana, mereka amat kecewa padaku, mereka berkata “hari ini adalah hari spesial sama seperti persahabatan kita, tapi kenapa justru sahabatku sendiri yang membuatku menangis dihari bahagia ini, yasudah kalo memang kau anggap persahabatan kita ini sudah tak ada lagi artinya”. aku pun terdiam mengingat ucapannya, apa aku salah ?? yang tadinya aku fikir mereka dapat memahamiku, ternyata tidak, terlintas dalam fikiranku ternyata ini bukan persahabatan yang sejati disaat mereka tak lagi bisa mengerti keadaanku, aku kecewa.

Semenjak itu hari-hariku terkadang aku lalui tanpa mereka, aku lebih  sering menghabiskan waktuku dengan pacar, keluarga dan juga kegiatanku. Namun sesekali juga aku bersama mereka walau keadaanya sudah jauh berbeda, aku tak lagi merasakan kehangatan yang seperti dulu kala, aku makin berfikir aku tak lagi dibutuhkan dalam kelompok ini, tapi aku tak mau memperlihatkannya, sesekali juga aku tetap tertawa bersama mereka, walau rasa bahagia itu tak sekuat dulu, namun menurutku yasudahlah nasi sudah mejadi bubur. Hari-hariku terus ku lalui seperti itu.

Suatu saat ketika aku sedang asik berbincang – bincang sambil tertawa, aku merasakan rasa sakit seperti yang biasa aku rasakan sebelumnya tapi aku hanya berpikir positif bahwa ini bukan masalah yang besar untuk hidupku, tapi kali ini sakitnya benar-benar mengerogoti tubuhku yang lemah tak berdaya namun disaat itu pacar dan sahabatku tak ada yang tau bagaimana kondisiku, karna aku tak ingin melihat mereka bersedih karenaku, lalu akupun tetap melanjutkan pembicaraan itu di sebuah lorong disekolahku.

Lambat laun penyakit itu makin menghabisi tubuhku, rambutku yang terus berjatuhan helai demi helai, kemudian badanku yang juga makin mengering, dan langkahku yang melemah tak sekuat dulu. Aku masih saja membandel, bahwa penyakit itu mungkin terjadi hanya karena aku kelelahan dengan aktivitasku yang menggunung dan fikiranku yang merumit. Ketika pagi itu datang aku sudah tak sanggup lagi untuk melanjutkan aktivitasku seperti biasanya, tubuhku lemas tak berdaya, orang tuaku pun segera membawaku ke rumah sakit, dan dokter memvonis ku, bahwa aku mengidam penyakit yang cukup berbahaya, tapi aku selalu menguatkan pikiranku, bahwa aku sanggup melawan ini semua, aku tau rencana tuhanku akan indah pada waktunya.

Berhari – hari aku tak nampak di bangku sekolahku, pacar dan sahabatku pun bertanya-tanya? Karna saat mereka telepon dan sms pun aku tak membalasnya, aku tak mau lagi membuatnya bersedih, seperti dahulu yang pernah aku lakukan pada mereka. Orang tua ku pernah bercerita bahwa pacar dan juga sahabatku datang kerumah untuk menanyakan keadaanku, namun ibuku yang telah dulu aku amanatkan untuk merahasiakan hal ini kepada siapapun termasuk mereka yaitu pacar dan sahabatku. lantas ibuku pun hanya berkata bahwa aku sedang berlibur dirumah pamanku di luar kota yang masih sangat terpencil dan itu sulit untuk menemukan sinyal, entah percaya atau tidak merekapun mengakhiri perbincangan itu dan bergegas pulang. Berbulan – bulan aku masih belum menampakkan diri disekolahku, dan mereka mengetahui bahwa aku telah pindah sekolah, dan aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan pacarku, aku berkata bahwa kita sudah tidak ada lagi kecocokan, dan aku tak mungkin bisa pacaran dengan jarak jauh. Padahal hanya tinggal mengitung jari sekolahku akan segera selesai.

Ujian pun tiba, ternyata namaku masih tercantum pada kertas yang ditempel dikaca jendela depan kelasku, kemudian mereka bertanya pada guru-guruku, cepat atau lambat aku tau bahwa merekapun akan mengetahuinya. Dan ketika itu guruku mengatakannya dengan penuh kegelisahan diraut wajahnya, mereka pun langsung mendatangi rumahku, namun disaat itu rumahku sedang tidak ada orang, karna orang tuaku yang menemaniku dirumah sakit. Dalam perjalanan pulangnya mereka bertemu dengan mantan kekasihku, dan mereka mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi padaku, kemudian mereka pun meneruskan perjalanannya. Setiap hari mereka mengunjungi rumahku hanya untuk mencari tau bagaimana keadaanku, alhasil suatu krtika mereka pun mendapati ibuku yang sedang dalam perjalanan pulang, mereka bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi padaku, ibuku masih saja menjawab bahwa aku pindah sekolah dan baik-baik saja, mereka terus saja mendesak ibuku untuk memberi tau yang sebenarnya, sekilas air mata ibuku pun jatuh membasahi wajahnya, dan beliau mengatakan yang sebenarnya telah terjadi padaku, merekapun segera begegas mendatangi rumah sakit dimana aku dirawat, tersentak aku melihat mereka dan menangis sambil berkata “mau apa kalian kemari ??” mereka hanya menjawab kenapa kamu membohongi kita, apa kamu sudah tak menganggap kita sahabat lagi, kita semua khawatir. Dan mantan kekasihku pun juga menanyakan “jadi ini alasan kamu membohongiku, kenapa?”

Aku tak lagi sanggup untuk berkata apapun, aku hanya menanggis dengan keadaanku, dan berfikir mengapa harus aku ??

 

—–The End—–

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: